7 Sifat dari 7 Presiden RI

7 Sifat dari 7 Presiden RI

 1. Presiden RI: Presiden Soekarno (1945-1966)
Visioner
Pada masanya, Indonesia masih belum menjadi NKRI. Dibutuhkan seorang pemersatu yang berani mengklaim bahwa akan ada satu negara yang akan berdaulat. Mimpi yang direalisasikan dan upaya pembuktian dibutuhkan kepintaran, keberanian, kepercayaan diri, dan kemampuan untuk bisa berbicara dengan tepat. Presiden Soekarno memiliki kriteria seperti itu.

Presiden Soekarno dilahirkan dengan wajah yang tampan dan kefasihan berbicara. Terbukti ia berhasil memenangkan persaingan untuk menarik simpati seorang gadis Belanda cantik. Padahal banyak juga pria Belanda, yang mengejar wanita tersebut. Modalnya tidak lain adalah Percaya Diri.

Kata-katanya mampu membangkitkan semangat patriotisme dan nasionalisme. Kata-kata seperti: “Bunga mawar tidak mempropagandakan harum semerbaknya, dengan sendirinya harum semerbaknya itu tersebar sekelilingnya. ” dan ” Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit.”
Kata-katanya pun menunjukan ia mempunyai visi yang besar salah satunya adalah menggunakan kata ‘Gerbang’ dalam kalimat bahwa Indonesia memasuki Gerbang Kemerdekaan. Gerbang adalah pintu masuk yang besar. Ini menunjukan beliau adalah orang yang punya visi.

2. Presiden Soeharto (1966-1998)
Ketegasan
Indonesia dalam masa carut marut karena muncul beberapa aliran yang ingin mendapatkan kekuasaan, salah satunya adalah dari komunis. Kondisi negara tidak terkendali. Peraturan dan tatanan negara masih belum jelas. Kehadiran Soeharto pada awalnya tidak diragukan memang memukau. Seorang ahli strategi merencanakan program pembangunan dengan tepat. Ada GBHN (Garis-garis Besar Haluan Negara), pembangunan jangka panjang yang pada pelaksanaannya dijabarkan dalam tahap pembangunan jangka pendek, yaitu Repelita/Pelita ( Rencana Pembangunan Lima Tahun/ Pembangunan Lima Tahun). Swasembada beras menjadi tonggak pencapaian dari presiden Soeharto. Selain itu ada keluarga berencana, program wajib belajar 9 tahun.

Bisa dikatakan pembangunan tidak akan berhasil jika pemerintahan sibuk untuk melepas-pasangkan orang-orang di dalamnya (re-shuffle) dalam jangka waktu yang terlalu pendek. Program kerja hanya menjadi rencana yang tidak terealisasi. Kondisi perang politik antara partai juga membuat pembangunan menjadi lambat. Pemerintah sibuk meredakan situasi antara pejabat, daripada memperbaiki kondisi rakyat.

Dengan adanya sifat tegas ini membuat roda pembangunan bisa menjadi cepat dan terealisasi. Namun bagaimanapun juga ketegasan yang di sertai otoriter dan arogansi ini menjadi bumerang bagi individu itu sendiri.

3. Presiden Habibie (1998-1999)
Cerdas
Nilai rupiah yang terlampau tinggi, berada di titik 15.000 rupiah per dolar. IHSG 200 poin. Negara yang dilanda krisis dalam sektor ekonomi, politik, dan sosial membutuhkan sosok yang cerdas untuk menuntaskan masalah yang ada.

Presiden Habibie, adalah orang yang diakui terpelajar tidak hanya oleh Indonesia namun juga dunia. Beliau terpilih untuk menjadi presiden melalui Sidang Umum MPR dan diangkat pada tanggal 11 Maret 1998. Sebelumnya ia merupakan wakil dari presiden Soeharto.

Era kepemimpinannya terbilang cukup singkat, hanya 512 hari. Namun dengan kecerdasannya, ia mampu mengangkat nilai rupiah menjadi 7000 rupiah per dolar, menaikkan IHSG menjadi 588 poin, dan menurunkan inflasi pada periode Januari- September 1998, 76%, menjadi 2% pada periode Januari-September 1999.

Kecerdasan presiden Habibie tidak perlu dipertanyakan lagi. Sebelum menjadi presiden. Presiden Habibie meraih gelar Doktotr Teknik dan Beliau bekerja sebagai Kepala Penelitian dan Pengembangan Analisis struktur pesawat, yang kemudian diangkat terus menjadi Vice President sekaligus Direktur Teknologi di perusahaan pesawat MBB dalam kurun waktu 4 tahun. Selanjutnya pada 1978, beliau menjadi Penasihat Senior bidang teknologi untuk Dewan Direktur MBB.

Di Indonesia, beliau diangkat menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek)  sekaligus Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Lalu diangkat menjadi Ketua Dewan Riset Nasional dan berbagai jabatan lainnya. Kecerdasannya memang luar biasa. Namun cerdas tanpa kerja keras dan keberanian akan menjadi sia-sia. Galilah ilmu sedalam mungkin.

4. Presiden Abdurrahman Wahid / Gus Dur ( 1999-2001)
Sosialis
Indonesia tidak memiliki kebebasan pers pada saat itu. Masyarakat hanya dipaparkan berita yang mendukung pemerintahan tanpa kejujuran bagi rakyat. Keanekaragaman ras dan agama juga dipermasalahkan pada masa itu. Ras minoritas ditindas dalam berbagai macam cara. Seorang pemimpin yang peduli akan rakyat dan bisa menyatukan keberagaman ada di dalam diri presiden Gus Dur.

Presiden Gus Dur terpilih menjadi Presiden bersama Megawati.
Saat terpilih Presiden Gus Dur membubarkan Departemen Penerangan (digunakan pada rezim Soeharto untuk menguasi media) dan Sosial (digunakan untuk korupsi). Selain itu beliau juga melakukan negosiasi dengan Gerakan Aceh Merdeka untuk mencapai kedamaian di Aceh.
Presiden Gus Dur membuka kran pluralitas bangsa. Kaum minoritas pun diberi tempat yang sewajarnya oleh presiden Gus Dur. Sebaliknya, yang mayoritas dididik untuk tidak mengintimidasi yang minoritas. Salah satu tindakannya adalah menetapkan hari Tahun Baru China ( Imlek) sebagai hari libur nasional dan pencabutan larangan penggunaan huruf Tionghoa.

5. Presiden Megawati Soekarno (2001-2004)
Pejuang Tangguh
Wanita umumnya dianggap feminim dan tidak diperhitungkan dalam kancah politik di masa itu. Demokrasi juga tidak ditegakkan. Pemilihan masih dilakukan oleh kalangan atas dan mengarah demi kepentingan-kepentingan pejabat.

Presiden Megawati terpilih menggantikan presiden Gus Dur. Jika dilihat dari latar belakangnya sebagai anak presiden RI pertama, tentu hidup presiden Megawati penuh perjuangan. Banyak yang memuja namun banyak juga yang membenci. Tanggal 27 Juli 1996 menjadi momen penting bagi partai PDI. Dimana masa tersebut Megawati merupakan ketua umum PDI yang sah namun tidak diakui oleh pihak Soerjadi (yang didukung pemerintah). Aksi penyerangan perebutan kantor DPP PDI yang menewaskan beberapa pendukung presiden Megawati. Penyerangan ini tidak membuat keberanian presiden Megawati menjadi surut namun semakin tangguh. Terbukti akhirnya Megawati memperoleh suara besar dengan nama PDI Perjuangan (PDI-P) 30% suara di Pemilu 1999.

Keberanian ini menghasilkan stabilisasi kondisi polhukkam dalam negeri peninggalan pemerintahan sebelumnya yang penuh kegaduhan sehingga Indonesia kembali membangun. Melakukan pembangunan infrastruktur yang vital, di antaranya Tol Cipularang, Jembatan Suramadu, Rel Ganda Serpong-Jakarta. Menyelesaikan kasus BLBI yang belum selesai sejak 1998 dan memasukkan tersangka ke penjara.

Dalam pemerintahannya, ia berani melakukan pemilihan umum langsung presiden dan bukan diwakilkan oleh MPR. Hal ini menjadi keberhasilan proses demokratisasi di Indonesia, meskipun pada akhirnya bukan Presiden Megawati yang terpilih.

6. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono/ SBY (2004-2014)

Strategy Thinker

Pada masa awalnya, Indonesia tidak begitu banyak gejolak. Ekonomi dan politik berjalan dengan stabil. Pemilihan Presiden SBY-JK dipilih langsung oleh rakyat. Presiden SBY awalnya adalah staf territorial TNI, pernah menjadi juru bicara ABRI menjelang siding MPR dan kemudian menjadi menteri pada era Gus Dur.

Berlatar belakang militer, membuat presiden SBY mempunyai kemampuan untuk merencanakan taktik dengan baik. Strategi-strategi dilakukan untuk mencapai perbaikan negara. Prestasi yang dicapainya adalah meredam konflik-konflik di beberapa daerah seperti di Aceh dan Maluku. Program penghematan pemakaian Bahan Bakar. Program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pengurangan Kemiskinan di Indonesia (MP3KI) juga dilancarkan. Meski tidak mencapai target, setidaknya program ini telah menurunkan angka kemiskinan. Pada tahun 2004, 16.7% menjadi 11% pada tahun 2014. Berarti dalam waktu 10 tahun ada penurunan sebesar 5.7% bukan angka yang mudah dicapai dan perlu mendapatkan apresiasi.

7. Presiden Joko Widodo/ Jokowi (2014-2019)

Kerakyatan

Teknologi makin tinggi, masyarakat makin kritis dalam menentukan pilihannya. Inilah masa-masa dimana suara rakyat menjadi sangat berarti. Kemudahan mencapai informasi membuat rakyat membutuhkan dan mencari pemimpin yang dekat rakyat.

Berawal dari berjualan mebel dan walikota Solo, presiden Jokowi sukses kala itu sukses mendapat hati rakyat karena kebijakan yang pro-rakyat yang diusungnya. Memajukan usaha kecil, merenovasi pasar tradisional, dan merelokasi warga miskin dari bantaran sungai ke tempat yang layak, presiden Jokowi menjadi sorotan media. Dua tahun kemudian Jokowi mengajukan diri menjadi Gurbernur DKI Jakarta. Terpilihlah beliau dan selama 1.5 tahun, presiden Jokowi mencalonkan diri menjadi presiden RI.

Sifatnya yang dekat dengan rakyat menghantarkan beliau di posisinya sekarang, presiden Republik Indonesia. Blusukan untuk melihat kegiatan rakyat yang sebenarnya membuat kesan presiden bukanlah raja yang memerintah namun seorang pemimpin sejati yang memahami rakyat. Prestasinya sendiri belum bisa dinilai karena masih terlalu awal untuk diinformasikan. Semoga saja sifat kerakyatan ini bukan hanya pencitraan semata, namun bisa mendorong pertumbuhan ekonomi rakyat Indonesia.

Referensi:

Soebachman, Agustina. 2015. 7 Spirit Presiden dari Pak Karno hingga Pak Jokowi. Yogyakarta: Syura Media Utama

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s